Minggu, 09 Juni 2019

RFID ( Radio Frequency Identification)


PENERAPAN RFID (Radio Frequency Identification) DI UPT PERPUSTAKAAN PUSAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

Yuli Andina Putri
Abstrak: Artikel ini membahas tentang pemanfaatan RFID di Perpustakaan UPT Pusat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Adapun tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui manfaat apa saja yang dirasakan oleh Perpustakaan UPT Pusat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar dan kendala-kendala yang dihadapi dalam penerapan RFID. Hasil pengamatan dari sumber yang terdapat Efektivitas penerapan RFID di perpustakaan UIN Alauddin Makassar masih belum optimal disebabkan oleh penerapan ELIMS EAS Gate, MPS, dan counter station (sirkulasi) tidak efektif dikarenakan banyaknya masalah dan kendala yang dihadapi UPT perpustakaan UIN Alauddin Makassar Kendala yang paling umum terjadi pada saat penerapan RFID di perpustakaan UIN Alauddin Makassar adalah system error dan human error. Apabila hal tersebut bisa diminimalisir dengan penanggulangan yang kuat maka risiko dari penerapan RFID atau kendala yang terjadi dapat dikurangi dan fungsi RFID sebagai identifikasi dan security dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Kata Kunci : RFID

A.  Pendahuluan
Perpustakaan adalah lembaga pendidikan non-formal serta media yang menyediakan berbagai bentuk kebutuhan yang berhubungan dengan dunia pendidikan misalnya, penelitian, rujukan, dokumentasi, kebudayaan, dan rekreasi. Oleh karena itu, sesuai dengan pengertian tersebut, maka perpustakaan harus mengikuti perkembangan zaman dan berbagai sarana pendukungnya agar mampu melaksanakan tugas, fungsi dan tujuannya dalam dunia pendidikan.
Perkembangan teknologi dan arus globalisasi mengakibatkan banyak kemajuan di berbagai bidang teknologi informasi atau information technology (IT). Peningkatan di bidang komunikasi dan transfer informasi yang tidak lagi mengenal batasan ruang dan waktu menimbulkan keinginan dan usaha untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat dalam rangka pengembangan wawasan, pemikiran dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, perpustakaan sebagai media informasi dituntut untuk mengikuti perkembangan IT.
Selain itu, kemajuan teknologi juga telah mendorong perpustakaan untuk menerapkan sebuah sistem yang dapat berjalan secara otomatis, sehingga memudahkan segala pekerjaan yang ada di perpustakaan, terutama pada bagian sirkulasi. Selain itu, sistem tersebut juga diharapkan mampu mengotrol segala aktivitas di perpustakaan dan memberikan keamanan terhadap informasi yang berada di dalamnya. Atas dasar dorongan tersebut, maka muncullah sebuah alat yang bernama barcode sebagai pendeteksi otomatis yang dapat membantu pustakawan khususnya kegiatan sirkulasi. Namun demikian, teknologi tersebut memiliki banyak kekurangan, sehingga memunculkan alat yang baru yang kemudian dikenal dengan sebutan RFID (Radio Frequency Identification). Radio Frequency Identification (RFID) atau Identifikasi Frekuensi Radio adalah sebuah metode yang digunakan untuk mengidentifikasi suatu objek dengan menggunakan sebuah sarana seperti label atau transponder untuk menyimpan dan mengambil data dengan jarak jauh. (Winda:2009) Sementara, RFID juga dapat dikatakan sebagai istilah untuk teknologi yang menggunakan gelombang radio yang bertujuan mengidentifikasi orang atau objek secara otomatis.

1.    RFID (Radio Frequency Identification)
a.      Pengertian RFID
RFID adalah teknologi penangkapan data yang dapat digunakan secara elektronik untuk mengidentifikasi, melacak dan menyimpan informasi dalam tag RFID (Hidayat:2010). Sedangkan menurut Wahyu dan Ahmad, RFID adalah teknologi identifikasi berbasis gelombang radio (Wahyu & Ahmad:2012).
Selain itu Frank Thronton menjelaskan bahwa RFID (Radio Frequency Identification) merupakan peralatan dan teknologi yang menggunakan sinyal radio untuk memberikan data yang telah diidentifikasi. RFID ini termasuk dalam bentuk tag atau label kecil yang dapat mengidentifikasi sebuah objek data diterima melalui sinyal, radio, kemudian di terjemahkan kembali dalam bentuk angka atau informasi lainnya (Thronthon:2006).

b.      Penerapan RFID Pada Perpustakaan
Sistem RFID mulai di pakai dalam perpustakaan pada akhir tahun 1990-an yang kegunaannya diantaranya tidak hanya mendeteksi hilangnya bahan pustaka, juga mempercepat kinerja staf dan pelaksanaannya, menyederhanakan dan mendukung kecepatan urusan dan pelaksanaan staf, dan dilaksanakan untuk tujuan pelacakan efisiensi dokumen di seluruh perpustakaan, mempermudah dan mempercepat pemakaian dokumen, keamanan bahan pustaka, inventarisasi, verifikasi dan penanganan di rak (Boss:2011).
Saat ini RFID sudah dikembangkan dalam dunia perpustakaan untuk
mempermudah bagian layanan perpustakaan seperti pengembalian bahan pustaka. Selain itu, RFID mempunyai beberapa keuntungan yang utama yaitu kemungkinan data dapat dibaca secara otomatis tanpa memperhatikan garis arah pembacaan, melewati bahan non konduktor seperti karton kertas dengan kecepatan akses beberapa ratus tag perdetik pada jarak + 100 meter (Latief:2016). Keunggulan utamanya yaitu adanya peningkatan layanan serta penghematan biaya operasional tenaga perpustakaan (Hamdani:2014)

c.       Tujuan dan manfaat RFID di perpustakaan
Tujuannya teknologi RFID yaitu mampu membuat transaksi lebih mudah dan pencarian data buku dalam perpustakaan, dan mempermudah dalam sarana pengetahuan. Manfaat RFID dapat digunakan untuk menjalankan dua fungsi sekaligus yaitu identifikasi dan security. Identifikasi sebagai fitur yang unik yang bermanfaat untuk meningkatkan pengelolaan koleksi dan membuat aktivitas sirkulasi makin cepat serta akurat dalam satu operasi. Sistem RFID dapat mempercepat peminjaman, memelihara koleksi pada susunan yang benar, dan bahkan mengurangi kesalahpahaman di antara petugas perpustakaan (Supriyono:2014).
Manfaat dari segi identifikasi selanjutnya adalah self service books drops. Koleksi yang dikembalikan langsung diidentifikasi setelah melalui book drop. Pada saat bersamaan database perpustakaan diperbaharui. Pengembalian mandiri (self service book drop) dapat menyediakan servis pengembalian 24 jam. Sebagai tambahan, book drop dapat dilengkapi dengan automatic sorting system, menjadikan pengelolaan koleksi lebih efisien. Di sisi lain, pada saat proses sirkulasi, pihak pengguna juga dapat melakukan peminjaman secara mandiri, dengan proses yang dibuat otomatis yang memudahkan pengguna (Hidayat:2010).

2.      Penerapan RFID Di UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Pada awal didirikannya, perpustakaan UIN Alauddin Makassar hingga pada tahun 2009 masih dikelola secara konvensional atau tradisional. Kemudian seiring dengan meningkatnya kemajuan teknologi informasi di bidang perpustakaan, pihak UPT perpustakaan UIN Alauddin Makassar melakukan perubahan secara menyeluruh dengan mengadakan transformasi sistem pengelolaan dari konvensional ke otomasi.
Meski demikian, pada saat itu kemampuan (skill) tentang IT yang dimiliki tenaga perpustakaan masih kurang dan banyaknya tenaga yang bukan berlatar di bidang perpustakaan. Alasan lain yang melatarbelakangi Perpustakaan UIN Alauddin Makassar melakukan hal tersebut di atas adalah jumlah pemustaka yang mengalami peningkatan hingga menuntut penambahan jumlah koleksi, yang berakibat pada perlunya suatu sistem untuk membantu pengolahan koleksi tersebut, terdapatnya berbagai masalah seperti banyaknya buku yang hilang, proses sirkulasi berlangsung
dalam waktu yang lama, dan berbagai masalah lainnya.
UPT Perpustakaan UIN Alauddin Makassar dalam hal ini dipelopori oleh kepala perpustakaan yang menjabat saat itu menerapkan ELiMS (Radio Frequency Identification (RFID)-based Electronic Library Management System) pada tahun 2011. EliMS merupakan sistem manajemen perpustakaan elektronik berbasis RFID. Dengan kata lain, ELiMS adalah sebuah sistem yang telah terintegrasi dengan RFID atau dapat pula dikatakan sebagai suatu produk yang satu paket dengan RFID. Sehingga apabila muncul perbincangan mengenai ELiMS maka hal itu sama saja memperbincangkan mengenai RFID, sebab RFID sudah termasuk di dalamnya. EliMS adalah salah satu produk dari PT Visikom Citra Perkasa di Jakarta yang merupakan cabang perusahaan EliMS ST LogiTrack di Singapura. Adapun jenis-jenis peralatan ELiMS adalah ELiMS Local Host, ELiMS Admin Station, ELiMS RFID Tag, ELiMS Multi-Purpose Station, ELiMS Book Drop, EliMS Sorting Station, ELiMS Counter Station, ELiMS EAS Gate, ELiMS Tagging Station.
Tujuan penerapan RFID di perpustakaan UIN Alauddin Makassar yaitu untuk memudahkan pemustaka dalam temu balik informasi, melindungi koleksi buku, menghindari pencurian atau mengurangi tingkat pencurian buku. Kehilangan atau kecurian buku di perpustakaan baik itu perpustakaan sekolah, perguruan tinggi, umum, khusus, dan masjid dan lain-lain bukanlah hal asing yang terdengar di telinga, apalagi semua perpustakaan tersebut tidak melindungi koleksi mereka dengan sistem yang cukup handal. Hal inilah yang menjadi tujuan diterapkannya RFID, yaitu mengidentifikasi buku yang tidak memalui jalur sirkulasi, sehingga buku yang hilang dapat dihindari atau diminimalisir. Dengan adanya RFID yang secara otomatis mendeteksi koleksi yang tidak melalui jalur sirkulasi, maka pustakawan semakin mudah memberikan pelayanan karena hanya terfokus pada satu pekerjaan. Teknologi RFID yang diterapkan oleh UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar memiliki dua fungsi yang berjalan sekaligus yaitu identifikasi dan security. Namun yang akan dibahas pertama kali adalah fungsi security, sebab fungsi identifikasi akan dibahas pada selanjutnya. Adapun yang dideteksi oleh RFID adalah barcode atau tag yang terpasang pada buku.
Jenis tag RFID yang digunakan UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar adalah tag pasif. Kesimpulan mengenai jenis ini diperoleh peneliti berdasarkan teori karakteristik tag pasif, yaitu tag RFID yang digunakan tidak memiliki power supply sendiri, hanya berbekal induksi listrik yang ada pada antena yang disebabkan oleh adanya frekuensi radio scanning yang masuk, sehingga respon dari suatu RFID yang pasif hanya nomor barcode saja. Itulah sebabnya tag RFID UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar berukuran kecil dan lebih tipis daripada selembar kertas, berbentuk label, dengan gelombang High-frequency, dan memory Read / Write (Baca/Tulis). RFID Tag ini terdiri dari tiga bagian yaitu lapisan pelindung dari benturan maupun risiko proses yang berlangsung, lilitan antena dan sebuah kapasitor membentuk rangkaian yang beresonansi pada frekuensi tertentu, dan ID chip yang akan memodulasi arus yang merepresentasikan bit-bit sinyal.
Fungsi keamanan atau security anti pencurian akan diaktifkan pada saat transaksi di bagian sirkulasi berlangsung secara bersamaan dan pada saat itu pula database perpustakaan otomatis diperbarui ketika pengembalian mandiri maupun melalui pustakawan. Sehingga RFID mampu menjalankan fungsinya sebagai security saat buku yang telah dipinjam melewati security gate EAS (Electronic Article Surveillance). Apabila security gate telah mendeteksi tag RFID pada buku maka muncul bunyi. Bunyi itu bisa saja berupa adanya pencurian, proses sirkulasi yang belum sempurna atau belum selesai, serta adanya buku yang tagnya telah rusak dan adanya tag yang tidak terbaca.
Fitur yang unik dari RFID yang diterapkan oleh UPT perpustakaan pusat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar adalah peminjaman dan pengembalian mandiri melalui MPS. Adapun proses atau tata cara peminjaman dan pengembalian mandiri melalui gelombang RFID yaitu sebagai berikut:
a.       Tekan “Borrow” untuk memulai proses peminjaman
b.      Masukkan Kartu anggota perpustakaan pada MPS, dengan posisi barcode menghadap ke atas
c.       Letakkan buku pada lempengan mesin MPS agar terdeteksi oleh RFID reader
d.      Tunggu beberapa saat sampai nomor barcode dan judul buku muncul di layar
e.       Sentuh layar yang bertuliskan “touch here to print receipt or exit” untuk memperoleh struk tanda peminjaman.
f.       Tunggu sebentar sampai kertas struk tanda peminjaman keluar dari mesin printer.
Sebelum RFID digunakan, para pustakawan yang berada pada bagian layanan tidak hanya bertugas melayani pra pemustaka, tetap ia juga harus mengawasi para pemustaka yang keluar masuk di perpustakaan. Sehingga hal itu terkadang mengurangi kinerja mereka dalam memberikan pelayanan pada saat transaksi peminjaman atau pengembalian. Hal ini juga bisa berakibat fatal dengan sistem yang ada. Fungsi identifikasi terpakai pada saat transaksi peminjaman dan pengembalian buku baik itu melalui book droop, MPS maupun melalui pustakawan. Sebelum dilakukan proses identifikasi pada EliMS Counter station, maka terlebih dahulu dilakukan tagging RFID. Adapun proses kerja tagging RFID di UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar adalah:
a.       RFID reader mengeluarkan gelombang frekuensi radio pada saat dihadapkan dengan tag RFID dan menginduksi RFID tag.
b.      Gelombang tersebut berisi item barcode, jika dikenali RFID tag maka memori RFID tag yang berada pada Chip akan terbaca
c.       RFID tag akan mengirimkan kode yang terdapat dalam memori ID Chip melalui antena yang terpasang di tag. Jika sesuai, RFID reader akan membaca kunci (item barcode).
d.      Untuk menghindari usaha penggandaan dan pencurian kode kunci, RFID akan membuat kode kunci yang baru. Kode yang baru ini akan disimpan ke memori RFID reader dan dikirimkan ke RFID tag yang akan disimpan di memori tag RFID .
Selanjutnya cara kerja identifikasi RFID di perpustakaan UIN Alauddin Makassar adalah:
a.       Tag RFID mengirimkan data dari piranti portable, kemudian dibaca oleh RFID reader, diproses oleh aplikasi komputer Counter station. Data yang dipancarkan dan dikirimkan tadi bisa berisi beragam informasi, seperti item barcode, nama pengguna, buku yang dipinjam, tanggal peminjaman dan pengembalian.
b.      Tag tersebut berisi transponder dengan suatu chip memori digital yang di dalamnya berisi sebuah kode produk yang sifatnya unik. Sebaliknya, interrogator, suatu antena yang berisi transceiver dan decoder, memancarkan sinyal yang bisa mengaktifkan RFID tag sehingga dia dapat membaca dan menulis data ke dalamnya. Ketika suatu RFID tag melewati suatu zone elektromagnetik, maka dia akan mendeteksi sinyal aktivasi yang dipancarkan oleh si reader. Reader akan men-decode data yang ada pada tag dan kemudian data tadi akan diproses oleh komputer.

3.      Kendala Dalam Penerapan RFID Di UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Secanggih apapun teknologi atau semakin maju teknologi pasti ada kekurangan ataupun kendala yang mengakibatkan teknologi yang diterapkan tersebut tidak berfungsi secara maksimal sesuai dengan yang diharapkan. Hal itulah yang terjadi di UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar di mana penerapan RFID mengalami berbagai macam kendala yang diantaranya adalah sebagai berikut:
1. System error
Kesalahan pada sistem bukanlah hal yang asing dalam penerapan teknologi informasi di perpustakaan. Kesalahan pada sistem ini dapat timbul akibat kesalahan dalam penginputan atau server satu dengan yang lainnya tidak terkoneksi dengan baik sehingga pengiriman data bermasalah. Sebagai salah satu masalah yang ditemukan peneliti di UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar adalah kesalahan pada saat transaksi peminjaman. Sebagaimana yang telah dikemukakan oleh peneliti sebelumnya bahwa sirkulasi berhubungan erat dengan penerapan RFID. Dengan kata lain, apabila selama transaksi peminjaman ataupun pengembalian, pihak pustakawan pada bagian sirkulasi tidak teliti, maka akan menyebabkan buku yang terpinjam dibaca sebagai sasaran para vandalis. Hal itu bisa saja terjadi, apabila peminjaman dilakukan secara mandiri dimana peminjaman seperti itu dilakukan ketika buku yang ingin dipinjam atau dikembalikan tidak terbaca oleh gelombang RFID. Sehingga buku tersebut masih berstatus terpinjam dan jika buku tersebut melewati pintu security gate, maka tidak akan menimbulkan bunyi apapun. Hal ini pula sesuai dengan hasil observasi yang peneliti dapatkan.

2. Human error
Seorang ahli ekonomi bernama Ducker pernah mengatakan bahwa sumber daya manusia adalah nyawa dalam organisasi. Hal ini dapat dikatakan bahwa, manusia merupakan penentu keberhasilan penerapan sistem teknologi informasi di UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Biasanya semakin tinggi Teknologi Informasi maka SDM yang ada juga semakin rendah. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya human error pada saat proses transaksi di bagian sirkulasi. Ketelitian dan kecermatan seseorang dapat membuat pekerjaan yang dilakukannya berjalan dengan baik, begitu pula halnya dengan pustakawan perpustakaan UIN Alauddin Makassar. Ketika gelombang RFID tidak dapat mendeteksi buku yang ingin dikembalikan atau ingin dipinjam maka pustakawan harus melakukan tag kembali pada barcode buku tersebut. Namun demikian, kelalaian, lupa dan kemalasan merupakan faktor yang tidak bisa hilang dari diri siapapun.

3. Network
Jaringan menjadi masalah yang utama juga.Karena RFID dijalankan melaui wireless. Oleh karena itu apabila PUSKOM bermasalah maka perpustakaan UIN Aladdin juga bermasalah. Hal lain yang dapat terjadi pula ialah apabila sambungan antara kabel yang digunakan sebagai transfer jaringan dari server yang satu ke yang lainnya di perpustakaan mengalami masalah yang diluar kendali seperti sengatan listrik. Selain itu pula, berdasarkan hasil observasi peneliti terlihat bahwa arsitektur data di UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar masih perlu ditangani secara mendalam karena hal itu.

4. User error
Seiring dengan perkembangan zaman, pencarian informasi sebagai sumber primer bukan lagi sebuah persoalan. Namun ini menimbulkan banyak masalah karena, dengan semakin luasnya akses informasi banyak pula bermunculan para vandalis-vandalis baik itu di perpustakaan maupun di tempat lain. Dalam literatur lain user error ini sering di istilahkan dengan kendala privasi, dimana seorang pemustaka yang dengan sengaja merusak tag yang terpasang pada buku, membongkar, merobek, atau mencoretnya. Entah apakah tujuannya hanyalah iseng atau memang berniat melakukan tindakan vandalisme (pencurian buku).

Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan maka diperoleh dua kesimpulan yaitu sebagai berikut:
1.      Efektivitas penerapan RFID di UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar masih belum optimal tau kurang signifikan disebabkan oleh penerapan ELiMS EAS Gate, MPS, dan counter station (sirkulasi) tidak efektif dikarenakan banyaknya masalah dan kendala yang dihadapi UPT perpustakaan UIN Alauddin Makassar.
2.      Kendala yang paling umum terjadi pada saat penerapan RFID di UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar adalah system error dan human error. Apabila hal tersebut bisa diminimalisir dengan penanggulangan yang kuat maka risiko dari penerapan RFID atau kendala yang terjadi dapat dikurangi dan fungsi RFID sebagai identifikasi dan security dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Daftar Pustaka

Idham Halim. (2016). "Efektifitas Penerapan RFID di UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar" skripsi. Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar

Hamdani, F. (2014). Jurnal ilmu perpustakaan, informasi,dan kearsipan. Penerapan RFID ( Radio Frequency Identification) Di perpustakaan kelebihan dan kekuranganya, 80.

Thronthon, F. (2006).RFID security.Canada: Synegress.

Wahyu, s., & Ahmad, m. (2012). Teknologi informasi perpustakaan; strategi perancangan perpustakaan digital.Yogyakarta: Kanisius.

Winda. (2009). Pengenalan Radio Frekuensi Identification (RFID) Dalam Kehidupan Sehari Hari. Jakarta: Binus university. Retrieved from httpsludovika88.files.wordpress.com200906rfid.doc.

Supriyono. (2014). Penerapan Aplikasi Rfid Dibidang Perpustakaan. Gajah mada university. yogyakarta. .http://prisekip.blog.ugm.ac.id/files/2009/08/11

Kamis, 30 Mei 2019


Identitas Jurnal
Judul Artikel              : Library Networking: A Year On
Judul Jurnal                 : The Electronic Library
Penulis                         : -
Tahun terbit                 : 1997
Sumber database         : https://www.emeraldinsight.com/doi/abs/10.1108/eb045573
Alamat URL               : http://dx.doi.org/10.1108/eb045573
Tanggal akses              : Jum’at, 17 Mei 2019

Laporan Critical Journal Report
I.                   Pengantar
e-mail masih merupakan satu-satunya sarana untuk saling terhubung antar perpustakaan Rusia. Tetapi, dibandingkan dengan tahun lalu, semakin banyak pustakawan mulai menyadari perlunya pindah ke teknologi informasi baru. Jadi ada perubahan tetapi mereka lebih sering terjadi dalam pikiran orang daripada dalam pekerjaan praktis. Hanya beberapa perpustakaan yang menggunakan sistem khusus, yang dipasok beberapa tahun yang lalu: sistem seperti LIBER, VTLS, ALEPH, CDS / ISIS ... Versi agak lama dan mereka memiliki masalah dengan peningkatan. Konferensi utama untuk pustakawan Rusia adalah konferensi CRIMEA dan yang terakhir, CRIMEA'97, yang diselenggarakan pada bulan Juni'97 (http: //www.library .knaw.nl / epic / news / crimea.htm), menunjukkan bahwa masalah utama sekarang adalah kurangnya dukungan finansial. Namun, terlepas dari itu, perpustakaan Rusia lebih hidup daripada mati.

II.                Ringkasan artikel/hasil penelitian
Perpustakaan akademik di Berlin sedang dalam proses mengembangkan jaringan mereka sendiri yang di harap akan dapat kami manfaatkan ketika sudah beroperasi. Karena perusahaan yang menyediakan jaringan untuk perpustakaan umum Berlin juga membantu mengembangkan jaringan perpustakaan akademik ini, kita dapat berharap bahwa ini akan memiliki efek mendalam pada layanan yang dapat diberikan baik untuk semua perpustakaan Berlin yang berpartisipasi dalam proyek-proyek ini serta perpustakaan lain di Jerman. Perkembangan cepat di Internet akan memaksa perpustakaan untuk bereaksi terhadap situasi di mana kita semakin tidak terlatih untuk berurusan dengan dan yang peraturan dan struktur yang berlaku lebih merupakan tantangan daripada bantuan. Mereka  yang bekerja di perpustakaan cenderung lupa bahwa dengan kehadiran mereka di Internet mereka tidak lagi melayani komunitas local mereka telah memperluas komunitas potensial kita ke keseluruhan. Perpustakaan Kota Berlin di mana mereka berencana untuk membuat beberapa pusat dasar agar pengunjung dapat mengirim email serta mengakses (layanan RUSLANet di Pskov , Novgorod dan Petrozavodsk, penyedia disponsori). PC lain akan dibuat dan untuk membuat prototipe perpustakaan regional yang tersedia di Perpustakaan Memorial Amerika di mana sistemnya disumbangkan. Saat ini hanya beberapa perpustakaan di pelanggan terutama dapat memiliki akses ke FirstSearch barat laut Rusia memiliki koneksi Internet, sebagai database.
Jika diimplementasikan oleh sistem lokal dan oleh serikat pekerja profesional yang membutuhkan nilai tambah sistem katalog, ini dapat mendukung pembaruan akses yang efisien ke database. Itu dapat diakses oleh kedua sistem, menghindari duplikasi dalam alur kerja siapa pun dengan akses Internet dan browser Web dan prosedur. Profil dapat memungkinkan katalog digunakan untuk mencari berdasarkan penulis, judul, kata kunci subjek, dilakukan pada sistem lokal dan mendukung penerbit dan tanggal. Sistem ini mencakup perincian pengunggahan data katalog itu ke serikat pekerja, yang merupakan koleksi referensi Perpustakaan di humaniora, logue. Karena idealnya hanya ada satu klien ilmu sosial, sains, teknologi dan bisnis yang dikonfigurasikan pada workstation yang mampu memperbarui dari awal pencetakan hingga saat ini baik sistem lokal dan hari katalog serikat, ditambah musik cetak dari 1981 dan seterusnya. Pengguna seperti basis data bibliografi nasional, yang terbaik juga dapat mencari buku dan laporan dari tahun 1980, alur kerja akan menggabungkan pencarian dan pembaruan jurnal dan serial dari tahun 1700, dan konferensi kedua basis data dari 1800 diadakan di Pusat Pasokan Dokumen Perpustakaan.

III.             Keunggulan penelitian
Dalam penulisan jurnal penulis lebih banyak menjabarkan pertanyaan-pertanyaan terkait sistem perpustakaan yang ada di beberapa kota dan dibandingkan dengan perpustakaan lain agar bisa mendapatkan informasi yang banyak untuk diaplikasikan pada perpustakaan.
IV.            Kelemahan penelitian
Kelemahan dalam jurnal ini ialah penulis banyak menggunakan bahasa yang sulit diterjemahkan sehingga sulit bagi pembaca mengartikannya dan dalam setiap paragraf
V.               Poin penting dari jurnal
Poin penting yang dapat penulis ambil ialah perpustakaan semakin lama akan semakin maju dalam sistem dan dalam perkembangannya dimana kita harus mengikuti setiap perubahan yang ada dimana sistem sudah memasuki keranah digital segala prosesnya sudah menuju ke digital itu menandakan perpustakaan memang maju berkembang dari segala aspek informasi perpustakaan banyak memberikan layanan serta akses databes untuk memenuhi informasi pengguna.
VI.            Kesimpulan dan saran
Untuk semua perpustakaan baik itu diluar maupun di dalam negeri diharapkan dapat menjadi sumber informasi bagi pengguna yang membutuhkannya dalam bidang ilmu pendidikan khususnya agar dalam mencari sumber informasi akan di dapatkan sumber yang terpercaya.
VII.          Daftar Pustaka
(1997),"Library networking: A year on", The Electronic Library, Vol. 15 Iss 4 pp. 299 – 304

Kamis, 04 April 2019

Sumber Informasi Sosial Humaniora


Nama                           : Yuli Andina Putri
Nim                             : 0601171013
Jurusan/Semester        : Ilmu Perpustakaan-B/ Semester 4

Perpustakaan Sebagai Sumber Informasi

Perkembangan informasi sangat bermanfaat dalam memenuhi kebutuhan informasi. Tingkat kebutuhan setiap orang berbeda-beda semakin tinggi tingkat kebutuhan akan informasi maka perilaku pengguna untuk mencari dan menemukan informasi juga semakin aktif. Tentunya informasi yang dibutuhkan adalah informasi yang relevan dan akurat dan dapat membantu mengatasi masalah yang sedang dihadapi. Tingkat kebutuhan tersebut mengakibatkan adanya perbedaan perilaku setiap pengguna informasi dalam melakukan pencarian informasi.
Pencari informasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan informasi. Perilaku informasi dimulai ketika seseorang merasa bahwa pengetahuan yang dimilikinya saat itu kurang dari pengetahuan yang dibutuhkan. Untuk memenuhi kebutuhannya maka orang tersebut akan mencari dengan menggunakan berbagai sumber tindakan pencarian informasi dengan menggunakan literatur adalah suatu perilaku yang kenyataannya menggambarkan berbagai tujuan.
Perilaku dalam mencari informasi diistilahkan sebagai information searching behavior. Menurut Wilson (2000) “perilaku pencari informasi ketika berinteraksi dengan sistem informasi”. Dalam hal ini penggunaan informasi menyadari adanya kebutuhan yang harus dipenuhi untuk kelangsungan kegiatan sehari-hari pengguna informasi.
Perpustakaan merupakan salah satu tempat untuk mendapatkan berbagai macam informasi. Selain sebagai ruang yang menyediakan koleksi dan layanan informasi, perpustakaan juga menunjang kreasi, diseminasi, penggunaan dan pelestarian data, informasi dan pengetahuan. Perpustakaan mendukung proses pencarian informasi karena melingkupi koleksi yang besar dari berbagai informasi dan dalam hal umum yang berkaitan dengan pengorganisasian, pengambilan, akses, penyimpanan, pengarsipan dan pengawetan informasi.
Perpustakaan perguruan tinggi yang merupakan jantungnya dari sebuah institusi pendidikan menyediakan berbagai informasi yang dibutuhkan seluruh aktivitas akademik dalam proses pendidikan. Library is the heart of educational process. Idealnya, perguruan tinggi yang baik haruslah memiliki perpustakaan yang baik.
Menurut Brodjonegoro (2003:7) bahwa setiap perguruan tinggi baik negeri maupun swasta wajib memiliki perpustakaan dan apabila tidak memiliki perpustakaan maka akan dicabut izin berdirinya perguruan tinggi tersebut. Informasi adalah data yang diolah dan dibentuk menjadi lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerimanya. Informasi merupakan pengumpulan dan pengolahan data untuk memberikan keterangan atau pengetahuan.
 Davis (2009:71) mendefinisikan informasi sebagai hasil dari olahan sebuah data yang memberikan pemahaman, wawasan, kesimpulan, keputusan, konfirmasi atau rekomendasi bagi si penerima. Informasi tersebut dapat berupa laporan, analisis, data yang terorganisir dalam output yang dapat dimengerti, respon, verbal, grafik, gambar, atau video.
Menurut Davis (2009:72) informasi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Benar/salah, berhubungan dengan kebenaran terhadap kenyataan.
2.      Baru, informasi yang dihasilkan benar-benar baru bagi penerimanya.
3.      Tambahan informasi yang dapat diperbaharui, memberikan adanya perubahan terhadap informasi yang telah ada
4.      Korektif, digunakan untuk melakukan koreksi terhadap informasi sebelumnya yang salah.
5.      Penegasan, dapat dipertegas informasi yang telah ada sehingga keyakinan terhadap informasi semakin meningkat.

Sumber informasi dapat diperoleh dalam dokumen dan non-dokumen. Sumber informasi yang berupa dokumen dapat berbentuk buku, jurnal, majalah, hasil-hasil penelitian. Sedangkan sumber informasi non-dokumen adalah manusia, yakni teman, pustakawan, pakar atau spesialis informasi. Menurut Setiarso (1997:5-6) bahwa sumber informasi juga terdapat pada:
1.      Manusia, manusia sebagai sumber informasi dapat kita hubungi baik secara lisan maupun tertulis yang lazim digunakan untuk kontak langsung dengan sumber ini ialah pertemuan dalam bentuk ceramah, panel diskusi, konferensi, lokakarya, seminar dan lain-lain.
2.      Organisasi, badan atau lembaga penelitian baik milik pemerintah maupun swasta yang bergerak dalam bidang sejenis merupakan sumber informasi penting termasuk industri dan himpunan profesi. Mereka memiliki kemampuan karena mempunyai fasilitas berupa tenaga penelitian, peralatan atau labolatorium, perpustakaan, dan jasa informasi yang tersedia.
3.      Literatur, literatur atau publikasi dalam bentuk terbaca maupun mikro merupakan merupakan sumber informasi yang cukup majemuk. Literatur dapat dikelompokkan menjadi:
a.       Literatur primer, bentuk dokumen yang memuat karangan yang lengkap dan asli. Jenisnya berupa makalah, koleksi karya ilmiah, buku pedoman, buku teks, publikasi resmi, berkala, dan lain-lain.
b.      Literatur sekunder, disebut juga sebagai sarana dalam penemuan informasi pada literatur primer. Jenisnya adalah berupa indeks, bibliografi, abstrak, tinjauan literatur, katalog dan lain-lain.

Daftar Pustaka
Setiarso, Bambang. (1997). Penerapan Teknologi Informasi dalam Sistem
Dokumentasi dan Perpustakaan. Jakarta: Grasindo.
Wilson, T.D. (2000). Recent trends in user studies: action research and qualitative
methods. Information Research, 5 (3).. march 14, 2011
Davis, Gordon B. (2009). Management information system: conceptual
            Foundation, srtucture and developmenet. Second Edition New York:
McGraw Hills. June 27, 2011
Citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.90.9811.
Siti Rozinah.2012. Perilaku Pencarian Informasi Mahasiswa dalam Penulisan Skripsi (Tesis)
            Jakarta (ID): STAINU

Layanan Sirkulasi


Nama                           : Yuli Andina Putri
Nim                             : 0601171013
Jurusan/Semester        : Ilmu Perpustakaan-B/ Semester 4

Kegiatan Layanan Sirkulasi
Perpustakaan diartikan sebuah ruangan atau gedung yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu yang digunakan pembaca bukan untuk dijual (SulistyoBasuki :1991). Perpustakaan digolongkan ke dalam beberapa jeni salah satu jenis perpustakaan yang dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat adalah perpustakaan umum.
Perpustakaan umum merupakan ruang publik yang terbuka untuk masyarakat, dan menjadi tempat bagi semua orang untuk membaca, berdiskusi, dan belajar tentang banyak hal. Di dalam perpustakaan umum tersedia berbagai koleksi yang dibutuhkan orang banyak dari berbagai lapisan, tanpa mengenal latar belakang. Di dalam perpustakaan selain sarana prasarana sebagai faktor pendukung layanan adalah pustakawan yang berperan penting dalam layanan, layanan Sirkulasi di perpustakaan merupakan salah satu kegiatan yang berkaitan dengan pemustaka perpustakaan.
Layanan Sirkulasi adalah layanan pengguna yang berkaitan dengan peminjaman, pengembalian, dan perpanjangan koleksi. Selain itu bagian sirkulasi juga harus bekerja sama dengan bagian pemeliharaan dan perbaikan koleksi perpustakaan, agar koleksi lebih efektif digunakan oleh pengguna. Dalam ilmu perpustakaan, sirkulasi sering disebut kegiatan peminjaman bahan pustaka atau kegiatan yang berkaitan dengan peminjaman dan pengembalian bahan pustaka (Lasa, 1993:1). Layanan sirkulasi di perpustakaan merupakan salah satu kegiatan yang berkaitan dengan pengguna perpustakaan.
Menurut F. Rahayunimgsih (2007: 95-98) Kegiatan layanan sirkulasi antara lain:
a.       Pendaftaran anggota perpustakaan
Salah satu tugas di bagian sirkulasi adalah menerima pendaftaran anggota perpustakaan dan melayani perpanjangan keanggotaan.
b.      Peminjaman
Peminjaman koleksi merupakan salah satu kegiatan utama dalam sirkulasi kegiatan adalah suatu proses pencatatan transaksi yang dilakukan oleh petugas perpustakaan dengan pemustaka pada saat pemustaka meminjam koleksi.
c.       Pengembalian atau perpanjangan
Kegiatan pengembalian adalah kegiatan pencatatan bukti bahwa pemustaka telah mengembalikan koleksi yang dipinjamnya.
d.      Penagihan
Kegiatan penagihan adalah kegiatan pemberitahuan kepada peminjam untuk meminta kembali koleksi yang dipinjam karena telah melampui batas waktu peminjaman.
e.       Pemberian sanksi
Sanksi adalah suatu tindakan pemberian hukuman atas orang yang melakukan pelanggaran.
f.       Beres administrasi perpustakaan
Beres administrasi perpustakaan adalah kegiatan pemeriksaan bahwa pemustaka tidak lagi mempunyai pinjaman dan denda, serta pemberian tanda bukti bahwa pemustaka telah bebas dan tidak mempunyai tanggungan apapun pada perpsutakaan.
g.      Statistik
Statistik adalah kegiatan pengumpulan data kegiatan sirkulasi sebagai bahan untuk melihat keadaan dan pengembangan perpustakaan.
Menurut Qalyubi (2007: 221) bagian layanan sirkulasi mempunyai fungsi melayani pengunjung perpustakaan khususnya dalam hal berikut ini:
a. Pengawasan pintu masuk dan keluar perpustakaan.
b. Pendaftaran anggota perpustakaan, perpanjangan keanggotaan, dan pengunduran diri anggota perpustakaan.
c. Peminjaman, pengembalian, dan perpanjangan waktu bahan peminjaman.
d. Pengurusan keterlambatan pengembalian koleksi yang dipinjam, seperti denda.
e. Pengeluaran surat peringatan bagi buku yang belum dikembalikan pada waktunya dan surat bebas pustaka.
f. Penugasan yang berkaitan dengan peminjaman buku, khususnya buku hilang atau rusak.
g. Pertanggungjawaban atas segala berkas peminjaman.
h. Pembuatan statistik peminjaman berupa statistik anggota yang memperbarui keanggotaanya, anggota batu, anggota yang mengundurkan diri, pengunjung perpustakaan, statistik peminjam, statistik jumlah buku yang dipinjam, statistik peminjaman buku berdasarkan subjek, dan jumlah buku yang masuk daftar tandon.
i. Penugasan lainnya, terutama yang berkaitan dengan peminjaman.

Daftar Pustaka
Lasa, HS. 2007. Manajemen Perpustakaan Sekolah. Yogyakarta: Pinus Book
Publisher.
Qalyudi, Syihabuddin. 2007. Dasar-dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi.
Yogyakarta: Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Fakultas Adab.
Sulistyo-Basuki. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka.
Rahayuningsih. 2007. Pengelolaan Perpustakaan. Yogyakarta: Graha Ilmu.          
Azmi Nur Widya.2013. Persepsi Pemustaka Tentang Sikap Pustakawan Pada Layanan Sirkulasi Di Perpustakaan Daerah Jepara (skripsi). Semarang (ID): Universitas Diponegoro

Koleksi Perpustakaan Tercetak dan Noncetak

A.    Pengertian Koleksi perpustakaan Koleksi adalah suatu istilah yang digunakan secara luas di dunia perpustakaan untuk menyatakan bah...