Minggu, 09 Juni 2019

RFID ( Radio Frequency Identification)


PENERAPAN RFID (Radio Frequency Identification) DI UPT PERPUSTAKAAN PUSAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

Yuli Andina Putri
Abstrak: Artikel ini membahas tentang pemanfaatan RFID di Perpustakaan UPT Pusat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Adapun tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui manfaat apa saja yang dirasakan oleh Perpustakaan UPT Pusat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar dan kendala-kendala yang dihadapi dalam penerapan RFID. Hasil pengamatan dari sumber yang terdapat Efektivitas penerapan RFID di perpustakaan UIN Alauddin Makassar masih belum optimal disebabkan oleh penerapan ELIMS EAS Gate, MPS, dan counter station (sirkulasi) tidak efektif dikarenakan banyaknya masalah dan kendala yang dihadapi UPT perpustakaan UIN Alauddin Makassar Kendala yang paling umum terjadi pada saat penerapan RFID di perpustakaan UIN Alauddin Makassar adalah system error dan human error. Apabila hal tersebut bisa diminimalisir dengan penanggulangan yang kuat maka risiko dari penerapan RFID atau kendala yang terjadi dapat dikurangi dan fungsi RFID sebagai identifikasi dan security dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Kata Kunci : RFID

A.  Pendahuluan
Perpustakaan adalah lembaga pendidikan non-formal serta media yang menyediakan berbagai bentuk kebutuhan yang berhubungan dengan dunia pendidikan misalnya, penelitian, rujukan, dokumentasi, kebudayaan, dan rekreasi. Oleh karena itu, sesuai dengan pengertian tersebut, maka perpustakaan harus mengikuti perkembangan zaman dan berbagai sarana pendukungnya agar mampu melaksanakan tugas, fungsi dan tujuannya dalam dunia pendidikan.
Perkembangan teknologi dan arus globalisasi mengakibatkan banyak kemajuan di berbagai bidang teknologi informasi atau information technology (IT). Peningkatan di bidang komunikasi dan transfer informasi yang tidak lagi mengenal batasan ruang dan waktu menimbulkan keinginan dan usaha untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat dalam rangka pengembangan wawasan, pemikiran dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, perpustakaan sebagai media informasi dituntut untuk mengikuti perkembangan IT.
Selain itu, kemajuan teknologi juga telah mendorong perpustakaan untuk menerapkan sebuah sistem yang dapat berjalan secara otomatis, sehingga memudahkan segala pekerjaan yang ada di perpustakaan, terutama pada bagian sirkulasi. Selain itu, sistem tersebut juga diharapkan mampu mengotrol segala aktivitas di perpustakaan dan memberikan keamanan terhadap informasi yang berada di dalamnya. Atas dasar dorongan tersebut, maka muncullah sebuah alat yang bernama barcode sebagai pendeteksi otomatis yang dapat membantu pustakawan khususnya kegiatan sirkulasi. Namun demikian, teknologi tersebut memiliki banyak kekurangan, sehingga memunculkan alat yang baru yang kemudian dikenal dengan sebutan RFID (Radio Frequency Identification). Radio Frequency Identification (RFID) atau Identifikasi Frekuensi Radio adalah sebuah metode yang digunakan untuk mengidentifikasi suatu objek dengan menggunakan sebuah sarana seperti label atau transponder untuk menyimpan dan mengambil data dengan jarak jauh. (Winda:2009) Sementara, RFID juga dapat dikatakan sebagai istilah untuk teknologi yang menggunakan gelombang radio yang bertujuan mengidentifikasi orang atau objek secara otomatis.

1.    RFID (Radio Frequency Identification)
a.      Pengertian RFID
RFID adalah teknologi penangkapan data yang dapat digunakan secara elektronik untuk mengidentifikasi, melacak dan menyimpan informasi dalam tag RFID (Hidayat:2010). Sedangkan menurut Wahyu dan Ahmad, RFID adalah teknologi identifikasi berbasis gelombang radio (Wahyu & Ahmad:2012).
Selain itu Frank Thronton menjelaskan bahwa RFID (Radio Frequency Identification) merupakan peralatan dan teknologi yang menggunakan sinyal radio untuk memberikan data yang telah diidentifikasi. RFID ini termasuk dalam bentuk tag atau label kecil yang dapat mengidentifikasi sebuah objek data diterima melalui sinyal, radio, kemudian di terjemahkan kembali dalam bentuk angka atau informasi lainnya (Thronthon:2006).

b.      Penerapan RFID Pada Perpustakaan
Sistem RFID mulai di pakai dalam perpustakaan pada akhir tahun 1990-an yang kegunaannya diantaranya tidak hanya mendeteksi hilangnya bahan pustaka, juga mempercepat kinerja staf dan pelaksanaannya, menyederhanakan dan mendukung kecepatan urusan dan pelaksanaan staf, dan dilaksanakan untuk tujuan pelacakan efisiensi dokumen di seluruh perpustakaan, mempermudah dan mempercepat pemakaian dokumen, keamanan bahan pustaka, inventarisasi, verifikasi dan penanganan di rak (Boss:2011).
Saat ini RFID sudah dikembangkan dalam dunia perpustakaan untuk
mempermudah bagian layanan perpustakaan seperti pengembalian bahan pustaka. Selain itu, RFID mempunyai beberapa keuntungan yang utama yaitu kemungkinan data dapat dibaca secara otomatis tanpa memperhatikan garis arah pembacaan, melewati bahan non konduktor seperti karton kertas dengan kecepatan akses beberapa ratus tag perdetik pada jarak + 100 meter (Latief:2016). Keunggulan utamanya yaitu adanya peningkatan layanan serta penghematan biaya operasional tenaga perpustakaan (Hamdani:2014)

c.       Tujuan dan manfaat RFID di perpustakaan
Tujuannya teknologi RFID yaitu mampu membuat transaksi lebih mudah dan pencarian data buku dalam perpustakaan, dan mempermudah dalam sarana pengetahuan. Manfaat RFID dapat digunakan untuk menjalankan dua fungsi sekaligus yaitu identifikasi dan security. Identifikasi sebagai fitur yang unik yang bermanfaat untuk meningkatkan pengelolaan koleksi dan membuat aktivitas sirkulasi makin cepat serta akurat dalam satu operasi. Sistem RFID dapat mempercepat peminjaman, memelihara koleksi pada susunan yang benar, dan bahkan mengurangi kesalahpahaman di antara petugas perpustakaan (Supriyono:2014).
Manfaat dari segi identifikasi selanjutnya adalah self service books drops. Koleksi yang dikembalikan langsung diidentifikasi setelah melalui book drop. Pada saat bersamaan database perpustakaan diperbaharui. Pengembalian mandiri (self service book drop) dapat menyediakan servis pengembalian 24 jam. Sebagai tambahan, book drop dapat dilengkapi dengan automatic sorting system, menjadikan pengelolaan koleksi lebih efisien. Di sisi lain, pada saat proses sirkulasi, pihak pengguna juga dapat melakukan peminjaman secara mandiri, dengan proses yang dibuat otomatis yang memudahkan pengguna (Hidayat:2010).

2.      Penerapan RFID Di UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Pada awal didirikannya, perpustakaan UIN Alauddin Makassar hingga pada tahun 2009 masih dikelola secara konvensional atau tradisional. Kemudian seiring dengan meningkatnya kemajuan teknologi informasi di bidang perpustakaan, pihak UPT perpustakaan UIN Alauddin Makassar melakukan perubahan secara menyeluruh dengan mengadakan transformasi sistem pengelolaan dari konvensional ke otomasi.
Meski demikian, pada saat itu kemampuan (skill) tentang IT yang dimiliki tenaga perpustakaan masih kurang dan banyaknya tenaga yang bukan berlatar di bidang perpustakaan. Alasan lain yang melatarbelakangi Perpustakaan UIN Alauddin Makassar melakukan hal tersebut di atas adalah jumlah pemustaka yang mengalami peningkatan hingga menuntut penambahan jumlah koleksi, yang berakibat pada perlunya suatu sistem untuk membantu pengolahan koleksi tersebut, terdapatnya berbagai masalah seperti banyaknya buku yang hilang, proses sirkulasi berlangsung
dalam waktu yang lama, dan berbagai masalah lainnya.
UPT Perpustakaan UIN Alauddin Makassar dalam hal ini dipelopori oleh kepala perpustakaan yang menjabat saat itu menerapkan ELiMS (Radio Frequency Identification (RFID)-based Electronic Library Management System) pada tahun 2011. EliMS merupakan sistem manajemen perpustakaan elektronik berbasis RFID. Dengan kata lain, ELiMS adalah sebuah sistem yang telah terintegrasi dengan RFID atau dapat pula dikatakan sebagai suatu produk yang satu paket dengan RFID. Sehingga apabila muncul perbincangan mengenai ELiMS maka hal itu sama saja memperbincangkan mengenai RFID, sebab RFID sudah termasuk di dalamnya. EliMS adalah salah satu produk dari PT Visikom Citra Perkasa di Jakarta yang merupakan cabang perusahaan EliMS ST LogiTrack di Singapura. Adapun jenis-jenis peralatan ELiMS adalah ELiMS Local Host, ELiMS Admin Station, ELiMS RFID Tag, ELiMS Multi-Purpose Station, ELiMS Book Drop, EliMS Sorting Station, ELiMS Counter Station, ELiMS EAS Gate, ELiMS Tagging Station.
Tujuan penerapan RFID di perpustakaan UIN Alauddin Makassar yaitu untuk memudahkan pemustaka dalam temu balik informasi, melindungi koleksi buku, menghindari pencurian atau mengurangi tingkat pencurian buku. Kehilangan atau kecurian buku di perpustakaan baik itu perpustakaan sekolah, perguruan tinggi, umum, khusus, dan masjid dan lain-lain bukanlah hal asing yang terdengar di telinga, apalagi semua perpustakaan tersebut tidak melindungi koleksi mereka dengan sistem yang cukup handal. Hal inilah yang menjadi tujuan diterapkannya RFID, yaitu mengidentifikasi buku yang tidak memalui jalur sirkulasi, sehingga buku yang hilang dapat dihindari atau diminimalisir. Dengan adanya RFID yang secara otomatis mendeteksi koleksi yang tidak melalui jalur sirkulasi, maka pustakawan semakin mudah memberikan pelayanan karena hanya terfokus pada satu pekerjaan. Teknologi RFID yang diterapkan oleh UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar memiliki dua fungsi yang berjalan sekaligus yaitu identifikasi dan security. Namun yang akan dibahas pertama kali adalah fungsi security, sebab fungsi identifikasi akan dibahas pada selanjutnya. Adapun yang dideteksi oleh RFID adalah barcode atau tag yang terpasang pada buku.
Jenis tag RFID yang digunakan UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar adalah tag pasif. Kesimpulan mengenai jenis ini diperoleh peneliti berdasarkan teori karakteristik tag pasif, yaitu tag RFID yang digunakan tidak memiliki power supply sendiri, hanya berbekal induksi listrik yang ada pada antena yang disebabkan oleh adanya frekuensi radio scanning yang masuk, sehingga respon dari suatu RFID yang pasif hanya nomor barcode saja. Itulah sebabnya tag RFID UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar berukuran kecil dan lebih tipis daripada selembar kertas, berbentuk label, dengan gelombang High-frequency, dan memory Read / Write (Baca/Tulis). RFID Tag ini terdiri dari tiga bagian yaitu lapisan pelindung dari benturan maupun risiko proses yang berlangsung, lilitan antena dan sebuah kapasitor membentuk rangkaian yang beresonansi pada frekuensi tertentu, dan ID chip yang akan memodulasi arus yang merepresentasikan bit-bit sinyal.
Fungsi keamanan atau security anti pencurian akan diaktifkan pada saat transaksi di bagian sirkulasi berlangsung secara bersamaan dan pada saat itu pula database perpustakaan otomatis diperbarui ketika pengembalian mandiri maupun melalui pustakawan. Sehingga RFID mampu menjalankan fungsinya sebagai security saat buku yang telah dipinjam melewati security gate EAS (Electronic Article Surveillance). Apabila security gate telah mendeteksi tag RFID pada buku maka muncul bunyi. Bunyi itu bisa saja berupa adanya pencurian, proses sirkulasi yang belum sempurna atau belum selesai, serta adanya buku yang tagnya telah rusak dan adanya tag yang tidak terbaca.
Fitur yang unik dari RFID yang diterapkan oleh UPT perpustakaan pusat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar adalah peminjaman dan pengembalian mandiri melalui MPS. Adapun proses atau tata cara peminjaman dan pengembalian mandiri melalui gelombang RFID yaitu sebagai berikut:
a.       Tekan “Borrow” untuk memulai proses peminjaman
b.      Masukkan Kartu anggota perpustakaan pada MPS, dengan posisi barcode menghadap ke atas
c.       Letakkan buku pada lempengan mesin MPS agar terdeteksi oleh RFID reader
d.      Tunggu beberapa saat sampai nomor barcode dan judul buku muncul di layar
e.       Sentuh layar yang bertuliskan “touch here to print receipt or exit” untuk memperoleh struk tanda peminjaman.
f.       Tunggu sebentar sampai kertas struk tanda peminjaman keluar dari mesin printer.
Sebelum RFID digunakan, para pustakawan yang berada pada bagian layanan tidak hanya bertugas melayani pra pemustaka, tetap ia juga harus mengawasi para pemustaka yang keluar masuk di perpustakaan. Sehingga hal itu terkadang mengurangi kinerja mereka dalam memberikan pelayanan pada saat transaksi peminjaman atau pengembalian. Hal ini juga bisa berakibat fatal dengan sistem yang ada. Fungsi identifikasi terpakai pada saat transaksi peminjaman dan pengembalian buku baik itu melalui book droop, MPS maupun melalui pustakawan. Sebelum dilakukan proses identifikasi pada EliMS Counter station, maka terlebih dahulu dilakukan tagging RFID. Adapun proses kerja tagging RFID di UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar adalah:
a.       RFID reader mengeluarkan gelombang frekuensi radio pada saat dihadapkan dengan tag RFID dan menginduksi RFID tag.
b.      Gelombang tersebut berisi item barcode, jika dikenali RFID tag maka memori RFID tag yang berada pada Chip akan terbaca
c.       RFID tag akan mengirimkan kode yang terdapat dalam memori ID Chip melalui antena yang terpasang di tag. Jika sesuai, RFID reader akan membaca kunci (item barcode).
d.      Untuk menghindari usaha penggandaan dan pencurian kode kunci, RFID akan membuat kode kunci yang baru. Kode yang baru ini akan disimpan ke memori RFID reader dan dikirimkan ke RFID tag yang akan disimpan di memori tag RFID .
Selanjutnya cara kerja identifikasi RFID di perpustakaan UIN Alauddin Makassar adalah:
a.       Tag RFID mengirimkan data dari piranti portable, kemudian dibaca oleh RFID reader, diproses oleh aplikasi komputer Counter station. Data yang dipancarkan dan dikirimkan tadi bisa berisi beragam informasi, seperti item barcode, nama pengguna, buku yang dipinjam, tanggal peminjaman dan pengembalian.
b.      Tag tersebut berisi transponder dengan suatu chip memori digital yang di dalamnya berisi sebuah kode produk yang sifatnya unik. Sebaliknya, interrogator, suatu antena yang berisi transceiver dan decoder, memancarkan sinyal yang bisa mengaktifkan RFID tag sehingga dia dapat membaca dan menulis data ke dalamnya. Ketika suatu RFID tag melewati suatu zone elektromagnetik, maka dia akan mendeteksi sinyal aktivasi yang dipancarkan oleh si reader. Reader akan men-decode data yang ada pada tag dan kemudian data tadi akan diproses oleh komputer.

3.      Kendala Dalam Penerapan RFID Di UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Secanggih apapun teknologi atau semakin maju teknologi pasti ada kekurangan ataupun kendala yang mengakibatkan teknologi yang diterapkan tersebut tidak berfungsi secara maksimal sesuai dengan yang diharapkan. Hal itulah yang terjadi di UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar di mana penerapan RFID mengalami berbagai macam kendala yang diantaranya adalah sebagai berikut:
1. System error
Kesalahan pada sistem bukanlah hal yang asing dalam penerapan teknologi informasi di perpustakaan. Kesalahan pada sistem ini dapat timbul akibat kesalahan dalam penginputan atau server satu dengan yang lainnya tidak terkoneksi dengan baik sehingga pengiriman data bermasalah. Sebagai salah satu masalah yang ditemukan peneliti di UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar adalah kesalahan pada saat transaksi peminjaman. Sebagaimana yang telah dikemukakan oleh peneliti sebelumnya bahwa sirkulasi berhubungan erat dengan penerapan RFID. Dengan kata lain, apabila selama transaksi peminjaman ataupun pengembalian, pihak pustakawan pada bagian sirkulasi tidak teliti, maka akan menyebabkan buku yang terpinjam dibaca sebagai sasaran para vandalis. Hal itu bisa saja terjadi, apabila peminjaman dilakukan secara mandiri dimana peminjaman seperti itu dilakukan ketika buku yang ingin dipinjam atau dikembalikan tidak terbaca oleh gelombang RFID. Sehingga buku tersebut masih berstatus terpinjam dan jika buku tersebut melewati pintu security gate, maka tidak akan menimbulkan bunyi apapun. Hal ini pula sesuai dengan hasil observasi yang peneliti dapatkan.

2. Human error
Seorang ahli ekonomi bernama Ducker pernah mengatakan bahwa sumber daya manusia adalah nyawa dalam organisasi. Hal ini dapat dikatakan bahwa, manusia merupakan penentu keberhasilan penerapan sistem teknologi informasi di UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Biasanya semakin tinggi Teknologi Informasi maka SDM yang ada juga semakin rendah. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya human error pada saat proses transaksi di bagian sirkulasi. Ketelitian dan kecermatan seseorang dapat membuat pekerjaan yang dilakukannya berjalan dengan baik, begitu pula halnya dengan pustakawan perpustakaan UIN Alauddin Makassar. Ketika gelombang RFID tidak dapat mendeteksi buku yang ingin dikembalikan atau ingin dipinjam maka pustakawan harus melakukan tag kembali pada barcode buku tersebut. Namun demikian, kelalaian, lupa dan kemalasan merupakan faktor yang tidak bisa hilang dari diri siapapun.

3. Network
Jaringan menjadi masalah yang utama juga.Karena RFID dijalankan melaui wireless. Oleh karena itu apabila PUSKOM bermasalah maka perpustakaan UIN Aladdin juga bermasalah. Hal lain yang dapat terjadi pula ialah apabila sambungan antara kabel yang digunakan sebagai transfer jaringan dari server yang satu ke yang lainnya di perpustakaan mengalami masalah yang diluar kendali seperti sengatan listrik. Selain itu pula, berdasarkan hasil observasi peneliti terlihat bahwa arsitektur data di UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar masih perlu ditangani secara mendalam karena hal itu.

4. User error
Seiring dengan perkembangan zaman, pencarian informasi sebagai sumber primer bukan lagi sebuah persoalan. Namun ini menimbulkan banyak masalah karena, dengan semakin luasnya akses informasi banyak pula bermunculan para vandalis-vandalis baik itu di perpustakaan maupun di tempat lain. Dalam literatur lain user error ini sering di istilahkan dengan kendala privasi, dimana seorang pemustaka yang dengan sengaja merusak tag yang terpasang pada buku, membongkar, merobek, atau mencoretnya. Entah apakah tujuannya hanyalah iseng atau memang berniat melakukan tindakan vandalisme (pencurian buku).

Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan maka diperoleh dua kesimpulan yaitu sebagai berikut:
1.      Efektivitas penerapan RFID di UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar masih belum optimal tau kurang signifikan disebabkan oleh penerapan ELiMS EAS Gate, MPS, dan counter station (sirkulasi) tidak efektif dikarenakan banyaknya masalah dan kendala yang dihadapi UPT perpustakaan UIN Alauddin Makassar.
2.      Kendala yang paling umum terjadi pada saat penerapan RFID di UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar adalah system error dan human error. Apabila hal tersebut bisa diminimalisir dengan penanggulangan yang kuat maka risiko dari penerapan RFID atau kendala yang terjadi dapat dikurangi dan fungsi RFID sebagai identifikasi dan security dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Daftar Pustaka

Idham Halim. (2016). "Efektifitas Penerapan RFID di UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar" skripsi. Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar

Hamdani, F. (2014). Jurnal ilmu perpustakaan, informasi,dan kearsipan. Penerapan RFID ( Radio Frequency Identification) Di perpustakaan kelebihan dan kekuranganya, 80.

Thronthon, F. (2006).RFID security.Canada: Synegress.

Wahyu, s., & Ahmad, m. (2012). Teknologi informasi perpustakaan; strategi perancangan perpustakaan digital.Yogyakarta: Kanisius.

Winda. (2009). Pengenalan Radio Frekuensi Identification (RFID) Dalam Kehidupan Sehari Hari. Jakarta: Binus university. Retrieved from httpsludovika88.files.wordpress.com200906rfid.doc.

Supriyono. (2014). Penerapan Aplikasi Rfid Dibidang Perpustakaan. Gajah mada university. yogyakarta. .http://prisekip.blog.ugm.ac.id/files/2009/08/11

Koleksi Perpustakaan Tercetak dan Noncetak

A.    Pengertian Koleksi perpustakaan Koleksi adalah suatu istilah yang digunakan secara luas di dunia perpustakaan untuk menyatakan bah...